Pangan dan Pertanian dalam Lima Indikator
Slideshow ini menampilkan lima indikator pangan dan pertanian dari World Development Indicators Bank Dunia, satu bingkai untuk tiap indikator. Setiap bingkai memuat grafik batang peringkat negara, nilai dan peringkat Indonesia, serta garis tren perjalanan angka Indonesia. Semua angka diambil dari kumpulan data yang sama dengan artikel di bawah.
| Prevalence of undernourishment | 94 | Kekurangan gizi di Indonesia 6,3%, di bawah nilai dunia 8,5% |
| Cereal yield | 30 | Hasil panen serealia Indonesia 5.828,8 kg/ha, peringkat 30 dari 181 negara |
| Agricultural land | 129 | Lahan pertanian mencakup 29,1258% daratan Indonesia, peringkat 129 dari 210 negara |
| Food production index | 52 | Indeks produksi pangan Indonesia 117,14, peringkat 52 dari 195 negara |
| Employment in agriculture | 121 | Pertanian menyerap 27,2969% tenaga kerja Indonesia, peringkat 121 dari 187 negara |
Bacalah tiap bingkai secara terpisah: satuan berbeda (persen, kg/ha, indeks), jumlah negara berbeda (169 sampai 210), dan arah peringkat tidak sama karena pada sebagian indikator nilai kecil yang berarti peringkat atas. Jangan membandingkan tinggi batang atau nomor peringkat antarbingkai.
Poin Utama
Dalam kumpulan data pangan dan pertanian ini, Indonesia berada di posisi menengah dunia dengan kecenderungan membaik pada sebagian besar indikator. Prevalensi kekurangan gizi tercatat 6,3% (peringkat 94 dari 169 negara, tahun data 2023), lebih rendah 2,2 poin dari nilai dunia 8,5%. Hasil panen serealia 5.828,8 kg/ha menempatkan Indonesia pada peringkat 30 dari 181 negara, sekitar 1,37 kali nilai dunia 4.243,5 kg/ha. Di sisi lain, pangsa tenaga kerja pertanian masih 27,2969% (peringkat 121 dari 187 negara), sedikit di atas nilai dunia 25,7808%, sementara lahan pertanian mencakup 29,1258% wilayah daratan (peringkat 129 dari 210 negara), di bawah nilai dunia 36,8836%.
Sumber: World Bank, *Prevalence of undernourishment*, *Cereal yield*, *Agricultural land*, *Employment in agriculture*, World Development Indicators (SN.ITK.DEFC.ZS, AG.YLD.CREL.KG, AG.LND.AGRI.ZS, SL.AGR.EMPL.ZS).
Nilai Terbaru Indikator Utama
Indikator pertama dalam data ini adalah prevalensi kekurangan gizi. Nilai Indonesia adalah 6,3% pada tahun data 2023, peringkat 94 dari 169 negara yang tercakup, sedangkan nilai dunia 8,5%. Artinya angka Indonesia berada di bawah nilai dunia, meskipun posisinya berada di paruh bawah daftar peringkat karena banyak negara berpenghasilan menengah dan tinggi berkumpul di nilai terendah. Perlu dicatat bahwa 12 negara teratas semuanya tercatat pada angka yang sama, 2,5%, yang merupakan batas bawah pelaporan; sebaliknya nilai tertinggi adalah Haiti 54,2%.
Sumber: World Bank, *Prevalence of undernourishment (% of population)*, World Development Indicators (SN.ITK.DEFC.ZS).
Negara Papan Atas dan Papan Bawah
Pada hasil panen serealia, papan atas diisi negara beriklim kering yang bertumpu pada irigasi dengan luas tanam sangat kecil: Oman 29.147,0 kg/ha, Uni Emirat Arab 23.306,5 kg/ha, dan Qatar 18.274,6 kg/ha, disusul Kuwait 14.956,8 kg/ha; di antara negara berlahan luas terdapat Selandia Baru 9.101,9 kg/ha, Belgia 8.485,7 kg/ha, dan AS 8.413,5 kg/ha. Papan bawah diisi Tanjung Verde 40,3 kg/ha, Namibia 451,2 kg/ha, Somalia 503,5 kg/ha, dan Niger 577,4 kg/ha. Indonesia dengan 5.828,8 kg/ha condong ke papan atas (peringkat 30 dari 181).
Pada pangsa lahan pertanian, urutan teratas adalah Côte d'Ivoire 86,4758%, Turkmenistan 84,2216%, Burundi 83,8866%, dan Uruguay 81,3541%, sedangkan terbawah adalah Suriname 0,4450%, Greenland 0,5923%, dan Singapura 0,9192%. Indonesia 29,1258% berada di bagian tengah-bawah, peringkat 129 dari 210. Perlu diingat bahwa arah peringkat tidak sama antarindikator: untuk hasil panen dan pangsa lahan, nilai besar berarti peringkat atas, sedangkan untuk kekurangan gizi dan pangsa tenaga kerja pertanian, nilai kecil yang berarti peringkat atas — pada indikator terakhir itu Singapura 0,0954% menempati peringkat 1 dan Burundi 85,3411% peringkat 187.
Sumber: World Bank, *Cereal yield (kg per hectare)*, *Agricultural land (% of land area)*, *Employment in agriculture (% of total employment)*, World Development Indicators (AG.YLD.CREL.KG, AG.LND.AGRI.ZS, SL.AGR.EMPL.ZS).
Perubahan dalam Sepuluh Tahun Terakhir
Kelima indikator memiliki seri waktu untuk Indonesia. Prevalensi kekurangan gizi turun dari 9,5% pada 2012 menjadi 6,3% pada 2023, berkurang 3,2 poin, dengan titik terendah 6,0% pada 2017 dan 2018 lalu naik kembali ke 6,6% pada 2020–2022. Hasil panen serealia naik dari 5.086,8 kg/ha pada 2012 menjadi 5.828,8 kg/ha pada 2023, bertambah 742,0 kg/ha atau sekitar 14,6%, dengan nilai tertinggi 5.833,8 kg/ha pada 2022; seri waktunya berhenti pada 2023, sementara tahun data terbaru yang dicatat sumber adalah 2024 dengan angka yang sama.
Pangsa lahan pertanian bergerak naik perlahan dari 27,0920% pada 2012 ke 29,1258% pada 2023, bertambah sekitar 2,03 poin. Indeks produksi pangan naik dari 95,63 pada 2011 menjadi 117,14 pada 2022, bertambah 21,51 poin, dengan lompatan dari 98,66 pada 2016 ke 110,00 pada 2017. Pangsa tenaga kerja pertanian turun dari 34,0047% pada 2014 menjadi 27,2969% pada 2025, berkurang sekitar 6,71 poin, meski sempat naik dari 28,4631% pada 2019 ke 29,3087% pada 2020.
Sumber: World Bank, *Prevalence of undernourishment*, *Cereal yield*, *Agricultural land*, *Food production index*, *Employment in agriculture*, World Development Indicators (SN.ITK.DEFC.ZS, AG.YLD.CREL.KG, AG.LND.AGRI.ZS, AG.PRD.FOOD.XD, SL.AGR.EMPL.ZS).
Perbandingan dengan Negara-Negara Terdekat
Pada hasil panen serealia, Indonesia 5.828,8 kg/ha berada di bawah semua negara pembanding besar yang tercantum: Tiongkok 6.418,1 (selisih 589,3), Korea Selatan 6.615,2 (selisih 786,4), Jepang 6.245,1 (selisih 416,3), Prancis 6.280,8, Jerman 7.007,3, UK 7.137,9, dan AS 8.413,5 kg/ha (selisih 2.584,7 atau sekitar 0,69 kali).
Pada pangsa lahan pertanian, Indonesia 29,1258% jauh di atas tetangga berwilayah kecil seperti Singapura 0,9192% (peringkat 208), Brunei 2,5427% (204), dan Papua Nugini 3,1025% (202), tetapi di bawah Tiongkok 55,4326% (47), Prancis 52,5044% (57), AS 46,0830% (74), dan UK 70,3073% (20); Jepang 12,6368% (172) dan Korea Selatan 16,0656% (164) berada di bawah Indonesia.
Pada pangsa tenaga kerja pertanian, Indonesia 27,2969% jauh di atas Korea Selatan 5,1038%, Jepang 2,8137%, AS 1,5249%, dan UK 0,8513%, sedikit di atas Tiongkok 21,6769%, dan jauh di bawah Laos 68,5970% (peringkat 182). Untuk indeks produksi pangan, Indonesia 117,14 (peringkat 52 dari 195) berada di atas Tiongkok 111,75, UK 101,24, Korea Selatan 101,21, AS 100,86, Jepang 100,27, Prancis 94,02, dan Jerman 92,71, serta jauh di atas Myanmar 76,96 (190). Pada prevalensi kekurangan gizi, Indonesia 6,3% lebih tinggi daripada Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, AS, dan negara Eropa pembanding yang semuanya tercatat 2,5%, namun jauh lebih rendah daripada Papua Nugini 28,7% dan Korea Utara 47,0%.
Sumber: World Bank, *Cereal yield*, *Agricultural land*, *Employment in agriculture*, *Food production index*, *Prevalence of undernourishment*, World Development Indicators (AG.YLD.CREL.KG, AG.LND.AGRI.ZS, SL.AGR.EMPL.ZS, AG.PRD.FOOD.XD, SN.ITK.DEFC.ZS).
Cara Membaca Angka Ini
Setiap indikator memiliki batas penafsirannya sendiri. Prevalensi kekurangan gizi memakai 2,5% sebagai batas bawah pelaporan, sehingga 12 negara yang sama-sama tercatat 2,5% tidak dapat dibaca sebagai berbeda satu sama lain, dan urutan di antara mereka tidak menunjukkan selisih nyata. Hasil panen serealia adalah bobot panen per satu hektar luas panen; angkanya dipengaruhi jenis serealia yang ditanam serta ketersediaan irigasi dan luas tanam, sehingga bukan ukuran besarnya produksi — negara teratas seperti Oman 29.147,0 kg/ha memiliki luas tanam yang sangat kecil.
Pangsa lahan pertanian adalah gabungan lahan olahan, tanaman tahunan, dan padang penggembalaan permanen terhadap luas daratan; ia tidak menyatakan jumlah produksi maupun tingkat swasembada. Indeks produksi pangan adalah nilai relatif terhadap rata-rata 2014–2016 negara itu sendiri yang ditetapkan 100, sehingga peringkat 52 bagi Indonesia menunjukkan besarnya kenaikan dari periode dasar, bukan besarnya produksi; nilai dunia 100,0 pun merupakan nilai dasar, bukan rata-rata capaian. Pangsa tenaga kerja pertanian untuk 2025 adalah estimasi model ILO, bukan hasil pengukuran langsung.
Seluruh angka berasal dari World Development Indicators Bank Dunia yang diperbarui sekitar sekali setahun, dan tahun data terbarunya berbeda-beda antarindikator, dari 2022 hingga 2025. Karena cara penyusunan statistik berbeda antarnegara, perbandingan langsung memiliki keterbatasan dan sebaiknya dibaca sebagai gambaran umum, bukan penilaian pasti.
Sumber: World Bank, World Development Indicators (SN.ITK.DEFC.ZS, AG.YLD.CREL.KG, AG.LND.AGRI.ZS, AG.PRD.FOOD.XD, SL.AGR.EMPL.ZS).
Prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan dalam peta dan grafik
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Aljazair | 2.5 |
| 2 | Armenia | 2.5 |
| 3 | Australia | 2.5 |
| 4 | Austria | 2.5 |
| 5 | Azerbaijan | 2.5 |
| 92 | Saint Vincent dan Grenadine | 6.1 |
| 93 | Ghana | 6.3 |
| 94 | Indonesia | 6.3 |
| 95 | El Salvador | 6.7 |
| 96 | Fiji | 6.8 |
| 167 | Korea Utara | 47 |
| 168 | Somalia | 53.2 |
| 169 | Haiti | 54.2 |
Dua belas negara teratas semuanya tercatat 2,5%, sedangkan ujung bawah diisi Haiti 54,2%, Somalia 53,2%, dan Korea Utara 47,0%. Indonesia 6,3% berada di paruh bawah daftar meski nilainya lebih kecil daripada nilai dunia.
Garis tren menunjukkan penurunan dari 9,5% pada 2012 ke 6,3% pada 2023, dengan titik terendah 6,0% pada 2017–2018 lalu naik lagi ke 6,6%. Jarak antarnegara sangat lebar, dari 2,5% sampai 54,2%.
Bandingkan negara
Produktivitas serealia
| Peringkat | Negara / wilayah | kg/ha |
|---|---|---|
| 1 | Oman | 29,147 |
| 2 | Uni Emirat Arab | 23,306 |
| 3 | Qatar | 18,275 |
| 4 | Kuwait | 14,957 |
| 5 | Saint Vincent dan Grenadine | 13,344 |
| 28 | Vietnam | 5,995 |
| 29 | Kroasia | 5,914 |
| 30 | Indonesia | 5,829 |
| 31 | Swiss | 5,706 |
| 32 | Hungaria | 5,630 |
| 179 | Somalia | 503.5 |
| 180 | Namibia | 451.2 |
| 181 | Tanjung Verde | 40.3 |
Puncak daftar diisi negara kering beririgasi dengan luas tanam kecil seperti Oman 29.147,0 dan Uni Emirat Arab 23.306,5 kg/ha, sedangkan dasar daftar adalah Tanjung Verde 40,3 dan Namibia 451,2 kg/ha. Indonesia berada di kelompok atas, namun di bawah Tiongkok 6.418,1 dan Jepang 6.245,1 kg/ha.
Garis tren naik dari 5.086,8 kg/ha pada 2012 ke 5.828,8 kg/ha pada 2023, bertambah 742,0 kg/ha. Skala batang sangat timpang karena nilai tertinggi lebih dari 700 kali nilai terendah.
Proporsi lahan pertanian
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Côte d’Ivoire | 86.48 |
| 2 | Turkmenistan | 84.22 |
| 3 | Burundi | 83.89 |
| 4 | Uruguay | 81.35 |
| 5 | Arab Saudi | 80.77 |
| 127 | Guam | 29.63 |
| 128 | Panama | 29.52 |
| 129 | Indonesia | 29.13 |
| 130 | Iran | 29.01 |
| 131 | Brasil | 28.33 |
| 208 | Singapura | 0.92 |
| 209 | Greenland | 0.59 |
| 210 | Suriname | 0.45 |
Ujung atas diisi Côte d'Ivoire 86,4758% dan Turkmenistan 84,2216%, ujung bawah Suriname 0,4450%, Greenland 0,5923%, dan Singapura 0,9192%. Indonesia berada di bagian tengah-bawah, di atas Jepang 12,6368% tetapi di bawah Tiongkok 55,4326%.
Garis tren naik perlahan dari 27,0920% pada 2012 ke 29,1258% pada 2023, sekitar 2,03 poin. Selisih antarnegara sangat besar, dari kurang dari 1% hingga lebih dari 86%.
Indeks produksi pangan
Ujung atas diisi Senegal 177,49 dan Arab Saudi 172,66, ujung bawah Gambia 71,08 dan Kuba 71,39. Indonesia berada di atas Tiongkok 111,75, AS 100,86, dan Jepang 100,27.
Garis tren naik dari 95,63 pada 2011 ke 117,14 pada 2022, dengan lompatan dari 98,66 pada 2016 ke 110,00 pada 2017. Nilai dunia 100,0 adalah nilai dasar, bukan rata-rata capaian.
Proporsi pekerja di sektor pertanian
Peringkat teratas adalah Singapura 0,0954% dan Hong Kong 0,1824%, sedangkan terbawah Burundi 85,3411% dan Mozambik 73,0061%. Indonesia berada sedikit di atas Tiongkok 21,6769% dan jauh di atas Korea Selatan 5,1038%.
Garis tren turun dari 34,0047% pada 2014 ke 27,2969% pada 2025, sekitar 6,71 poin, dengan kenaikan sementara pada 2020 ke 29,3087%. Rentang antarnegara membentang dari hampir nol sampai lebih dari 85%.